13 Oktober 2010

Maksiat Menggelapkan Hati

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Setiap hari tidak bosan-bosannya kita melakukan maksiat. Aurat terus diumbar, tanpa pernah sadar untuk mengenakan jilbab dan menutup aurat yang sempurna. Shalat 5 waktu yang sudah diketahui wajibnya seringkali ditinggalkan tanpa pernah ada rasa bersalah. Padahal meninggalkannya termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa zina. Saudara muslim jadi incaran untuk dijadikan bahan gunjingan (alias “ghibah”).

Padahal sebagaimana daging saudaranya haram dimakan, begitu pula dengan kehormatannya, haram untuk dijelek-jelekkan di saat ia tidak mengetahuinya. Gambar porno jadi bahan tontonan setiap kali browsing di dunia maya. Tidak hanya itu, yang lebih parah, kita selalu jadi budak dunia, sehingga ramalan primbon tidak bisa dilepas, ngalap berkah di kubur-kubur wali atau habib jadi rutinitas, dan jimat pun sebagai penglaris dan pemikat untuk mudah dapatkan dunia. Hati ini pun tak pernah kunjung sadar. Tidak bosan-bosannya maksiat terus diterjang, detik demi detik, di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.

Ayat yang patut jadi renungan di malam ini adalah firman Allah Ta’ala,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)

Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan "ar raan" yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”[1]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya.[2]

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.”[3]

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”[4]

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatawanya. Hudzaifah berkata, “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih. Jika kalian membelah hati orang beriman, kalian akan melihatnya putih bercahaya. Sedangkan kemunafikan membuat hati tampak hitam kelam. Jika seorang hamba bertambah kemunafikannya, hatinya pun akan semakin gelap. Jika kalian membelah hati orang munafik, maka kalian akan melihatnya hitam mencekam.”[5]

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan mengenai surat Al Muthoffifin ayat 14, “Yang dimaksud adalah dosa yang menumpuk di atas dosa.”[6]

Inilah di antara dampak bahaya maksiat bagi hati. Setiap maksiat membuat hati tertutup noda hitam dan lama kelamaan hati tersebut jadi tertutup. Jika hati itu tertutup, apakah mampu ia menerima seberkas cahaya kebenaran? Sungguh sangat tidak mungkin. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[7]

Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran.

Ya Allah, tunjukkanlah hati kami ini agar selalu taat pada-Mu dan berusaha menjauhi setiap maksiat yang benar-benar telah Engkau larang, apalagi dosa syirik dan kekufuran. Amin Yaa Mujibbas Saailin.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


[1] HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Al Qurthubah, 14/268.

[3] Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 7/442.

[4] Tafsir Al Jalalain, Al Mahalli dan As Suyuthi, Mawqi’ At Tafasir, 12/360

[5] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 15/283

[6] Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, hal. 70.

[7] Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

01 Agustus 2010

Para Perindu Ramadhan

Apabila benar anda rindu, anda akan mencium bau Ramadhan dari jauh, seperti Nabi Ya’qub mencium Nabi Yusuf karena kerinduan yang menggelora pada putranya itu. Sekiranya anda mencium Ramadhan dan anda kenakan “ pakaiannya”, niscaya hati anda kembali melihat. Seperti pandangan Nabi Ya’qub, terbebas dari pandangan kebutaan karena mencium aroma baju Nabi Yusuf.
Jika benar anda rindu Ramadhan, anda akan membuat persiapan untuk menyambutnya.
Allah berfirman: “ Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, Maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." ( QS: At-taubah:46).

Ibnul Qayyim berkata, “ berhati-hatilah terhadap dua perkara, Pertama: kewajiban telah datang, tetapi kalian tidak siap menjalankannya, sehingga kalian mendapatkan hukuman berupa kelemahan untuk memenuhinya dan kehinaan dengan tidak mendapatkan pahalanya……”
Allah berfirman, “Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, “ Kamu tidak boleh keluar bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang pada kali pertama. Karena itu, duduklah bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.” (QS. At-Taubah:83).
Kita haruslah berhati-hati dari mengalami nasib seperti ini, yaitu menjadi orang yang tidak berhak menjalankan perintah Allah yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman, berupa tertutupnya hati dari hidayah.
Allah berfirman: “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaanya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya .”(QS. Al An’am:110).
Itulah sebab pentingya persiapan dalam menyambut kedatangan Ramadhan, sehingga kita tidak dihukum dengan tidak berdayanya kita dalam melakukan kebaikan dan kehinaan dengan tidak boleh menambah ketaatan.
Mari kita renungkan kembali ayat-ayat diatas. Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, lalu Allah melemahkan mereka. Karena tidak ada persiapan dari mereka dan niat mereka pun tidak ada.
Namun, apabila seseorang bersiap untuk menunaikan suatu amal, dan ia bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah tidak menolak hambanya yang datang menghadap-Nya. Sehingga dahulu, generasi salafusshaleh selalu mempersiapkan diri-diri mereka menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya.
Pada enam bulan sebelum Ramadhan, mereka berdoa agar sampai di bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan setelah Ramadhan, mereka berdoa agar kembali bertemu ramadhan. Sehingga sepanjang tahun, kehidupan mereka adalah nuansanya adalah Ramadhan.
Antara Rajab, Sya’ban dan Ramadhan
 Buatlah Persiapan Menyambut Ramadhan.
Aisyah-radhiyallahu’anha berkata: “saya sama sekali belum pernah melihat Rasulullah shalallahuaalaaihi wassalam berpuasa dalam satu bulan, sebanyak yang beliau lakukan dibulan Sya’ban. Didalamnya beliau berpuasa sebulan penuh.” (HR. Muslim).
Menurut riwayat lain, “ Beliau shalallahuaalaaihi wassalam berpuasa di hulan sya’ban kecuali sedikit hari.”
Karenanya, bersiaplah dengan banyak berpuasa, agar jiwa terbiasa dengan puasa. Lakukanlah shalat malam di bulan Sya’ban. Perbanyaklah membaca Al-Quran. Perbanyaklah dzikir kepada Allah sebagai pengantar memasuki Ramadhan.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Rajab adalah bulan persemaian. Sya’ban adalah bulan pengairan . adapun Ramadhan, ia adalah bulan memetik buah. Agar buah dapat dipetik di bulan Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang rimbun.
 Perbarui Taubat.
Persiapan lain untuk menyambut Ramadhan adalah taubat. Semoga Allah mengaruniakan taubat nasuha kepada kita agar Ia ridha. Karena taubat wajib dilakukan oleh seorang hamba setiap saat.
Allah berfirman: “dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nir:31).

 Agungkan Perintah Dan Larangan Allah
Kita harus memiliki rasa kuatir yang besar, jika kita tetap tidak terbebas dari api neraka meski telah melewati Ramadhan. Bagaimana nasib Bani Israil, tatkala mereka tidak menghormati perintah Allah untuk tidak mencari ikan dihari sabtu? Allah mengubah mereka menjadi kera.
Allah berfirman: “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. Al A’raf:166).
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah:183).
Ini adalah perintah, kewajiban sekaligus ritual yang agung. Barangsiapa mengagungkannya, dia adalah orang bertakwa. Allah berfirman: “ demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj:32).
Secara fitrah, hati manusia membenci kemaksiatan, tetapi sebagaimana diketahui, fitrah bisa berubah-ubah, kita harus mengembalikan fitrah ini ke dalam hati bila ia telah hilang, atau memperkuatnya bila ia telah lemah.
Dengannya, seseorang menjadi enggan bermaksiat kapada Allah, khususnya setelah merasakan kondisi keimanan ditengah ibadah puasa. Agar hati terlatih bersikap enggan bermaksiat kepada Allah sebelum Ramadhan datang. Seseorang harus berbaur dengan nilai-nilai ruhiyah yang tinggi, agar hati mengingkari dan berhati-hati atas segala bentuk maksiat, baik lisan, penglihatan, perasaan, maupun anggota badan. Ia juga harus berbaur dengan perenungan Al-Quran dan pemahaman dzikir, meraskan kelezatan munajat dan tunduk dihadapan Allah.
Kesiapan seseorang untuk menyambut Ramadhan ditandai dengan sikap enggan terhadap maksiat. Hal ini bisa dilakukan dengan memperbanyak puasa dan membaca al-Quran. Orang berakal tidak akan terbayang untuk melakukan maksiat kita sibuk dengan ketaatan.

 Latih Kepekaan Pancaindra.
Biasakanlah pancaindra dengan ketaatan. Latih mata untuk melihat mushaf, hindarkan dari memandang yang haram. Latih telinga mendengar Al-Quran, mendengar ilmu. Hindarkan dari mendengar nyanyian-nyanyian haram, perkataan dusta, keji dan kotor. Biasakan lidah memperbanyak dzikir, beramal ma’ruf nahi munkar, berkata jujur dan menyampaikan nasihat kepada kaum mukmin.

 Manusia Akan Bertanggungnjawab Atas Anggota Badan Dan Inderanya Pada Hari Kiamat.
Allah berfirman,” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra:36).
Karena pancaindra harus dilatih sebagai bentuk persiapan, agar ia tunduk pada anda dibulan Ramadhan. Andapun akan mudah mengendalikannya.

 Perbanyaklah Puasa Pada Bulan Sya’ban.
Dari Aisyah radhiyallahu anha, berkata: “Rasulullah shalallahualaihi wassalam berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau tidak pernah puasa. Namun Rasulullah shalallahualaihi wassalam pernah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat satu bulan yang paling banyak beliau berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban.” ( HR. Muslim).
Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang diharamkan mendapatkan berkah Ramadhan, karena Ramadhan telah di depan mata namun kita belum melakukan persiapan.
Wallaahua a’lam.
Sumber: buletin Nur Madinah; (Disarikan dari “Asraarul Muhibbin fii Ramadhan” karya Syekh Muhammad Husain Ya’qub). musafirmuda

24 Juli 2010

Memelihara Hati Dari Penyimpangan Dan Noda

Karena hati sebagai tempat sifat kelembutan yang menjadi faktor berlinangnya air mata, maka apa yang menimpa hati berupa ihwalnya yang berubah-ubah merupakan penyebab yang langsung berpengaruh pada kelembutan ataupun kekerasannya. Sebagaimana telah diketahui, hati dinamai “al-qalbu” disebabkan sifat dan keadaannya yang senantiasa berubah-ubah, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah shalallahualaihi wassalam dalam sabdanya:
“ Perumpamaan hati seperti bulu-bulu ditengah tanah lapang yang dihembus angin (sehingga beterbangan) membahayakan perut.”1

Dalam hadist lain beliau shalallahualaihi wassalam bersabda :

“ Tiada hati melainkan memiliki semacam awan yang menyelimuti rembulan. Ketika tiada terhalang, ia memancarkan sinarnya, ketika awan datang ia menjadi gelap.” 2
Hati adalah titik tolak dalam menempuh jalan kebenaran … dari itu, ia harus dijaga, dirawat dan dipelihara.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata : “ Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba menempuh jalan menuju Allah dengan hati dan tekad bajanya dan bukan dengan fisiknya. Hakikat takwa adalah takwanya hati, bukan takwanya anggota badan. Sebab Allah telah berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” ( Q.S. Al-Hajj : 37 )

Sedangkan posisi takwa itu adalah dihati… maka orang yang cerdik adalah orang yang menempuh jarak perjalanan (menuju Allah) dengan bekal tekad yang benar, cita-cita yang tinggi serta membersihkan dan menjernihkan niatnya diikuti dengan amal. Hal ini sangat jauh berbeda dengan perjlaanan yang ditempuh oleh orang yang tidak membekali diri dengan sifat-sifat tersebut meski dibarengi jerih payah dan kerja keras. Melaju menuju Allah adalah dengan tekad bulat tujuan yang benar serta keinginan yang membara.” 3 (Musafir muda)
Bada Isya, Rantau 12 Syaban 1431 H/ 24 Juli 2010 M
Keterangan:
1. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan dua sanad yang sama shahih. Periksa kitab ‘Syarhus Sunnah’ 1/164.
2. Dikeluarkan oleh Imam At-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan dihasankan oleh Imam Al-Albani. Lihat Shahih ‘Jami’ As-Shagir’ Juz 2 Hadist No.5682.
3. Terdapat dalam kitab Al-Fawaid’ hal.168
Sumber : Kiat Melembutkan Hati Dan Menangis Karena Allah, Pustaka At-Tibyan